Menakar Relevansi Emansipasi dalam Pembangunan Daerah di Bojonegoro
Sosial

Menakar Relevansi Emansipasi dalam Pembangunan Daerah di Bojonegoro

21 April 2026
3 views
3 menit baca

​Sejarah mencatat Kartini sebagai simbol pendobrakan atas keterbatasan akses pendidikan bagi kaum perempuan

BOJONEGORO – Peringatan Hari Kartini yang jatuh setiap tanggal 21 April kembali menjadi momentum krusial bagi masyarakat Indonesia untuk merefleksikan sejauh mana semangat perjuangan Raden Ajeng Kartini terinternalisasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Di Kabupaten Bojonegoro, geliat peringatan ini tidak sekadar menjadi seremoni kebaya, melainkan sebuah diskursus serius mengenai peran strategis perempuan dalam kebijakan publik dan pembangunan ekonomi daerah.

​Sejarah mencatat Kartini sebagai simbol pendobrakan atas keterbatasan akses pendidikan bagi kaum perempuan. Di era modern ini, tantangan tersebut telah bertransformasi menjadi isu representasi politik, ketahanan ekonomi keluarga, hingga perlindungan hak-hak perempuan di ruang digital dan profesional.

​Pemerintah Kabupaten Bojonegoro terus berupaya menyelaraskan program daerah dengan semangat kesetaraan gender. Hal ini terlihat dari meningkatnya partisipasi perempuan dalam berbagai sektor, mulai dari pengusaha UMKM hingga posisi strategis di birokrasi. Namun, tantangan berupa angka stunting, pemulihan ekonomi pascapandemi, dan akses kesehatan reproduksi masih menjadi "pekerjaan rumah" yang membutuhkan sentuhan kebijakan yang inklusif.

​Menanggapi urgensi peringatan Hari Kartini tahun ini, Ahmad Supriyanto, yang menjabat sebagai Ketua DPD Partai Golkar Bojonegoro sekaligus Ketua Komisi C DPRD Kabupaten Bojonegoro, memberikan pandangan mendalam mengenai peran perempuan dalam pembangunan di tingkat lokal.

​Menurutnya, sosok Kartini harus dilihat sebagai inspirasi bagi regulasi yang berpihak pada kesejahteraan sosial. Sebagai Ketua Komisi C yang membidangi kesejahteraan rakyat (termasuk pendidikan dan kesehatan), ia menekankan bahwa pemdayaan perempuan adalah kunci stabilitas daerah.

​"Hari Kartini bukan sekadar mengenang masa lalu, melainkan momentum bagi kita di legislatif untuk memastikan bahwa tidak ada lagi hambatan bagi perempuan Bojonegoro dalam mengakses pendidikan tinggi dan fasilitas kesehatan yang layak. Perempuan adalah tiang negara, jika mereka berdaya, maka kualitas generasi penerus kita pun akan meningkat," ujar Ahmad Supriyanto.

​Ia juga menambahkan bahwa secara politik, Partai Golkar terus mendorong kader-kader perempuan untuk mengambil peran kepemimpinan.

​"Kami di DPD Golkar Bojonegoro berkomitmen memberikan ruang seluas-luasnya bagi perempuan untuk berkarier di politik. Kita butuh perspektif perempuan dalam merumuskan kebijakan publik agar lebih humanis dan tepat sasaran. Semangat Kartini adalah semangat keberanian untuk bersuara, dan itulah yang kami dorong di parlemen," tegasnya.

​Peringatan Hari Kartini tahun ini diharapkan mampu memicu sinergi antara pemerintah, legislatif, dan masyarakat sipil. Dengan adanya dorongan kuat dari berbagai pihak, termasuk dukungan kebijakan dari DPRD, visi Kartini tentang perempuan yang mandiri dan berpendidikan tinggi diharapkan bukan lagi sekadar impian dalam surat-suratnya, melainkan realitas yang dirasakan oleh seluruh perempuan di pelosok desa di Bojonegoro.

​Melalui sinergi ini, Bojonegoro optimis dapat melahirkan "Kartini-Kartini Baru" yang tidak hanya mahir dalam domestik, tetapi juga tangguh dalam memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan daerah di tengah tantangan global yang kian kompleks.

Tags:

#Hari Kartini#Hari Kartini 2026#Kartini Day#Perempuan Inspiratif#Habis Gelap Terbitlah Terang#Bojonegoro#Info Bojonegoro#Perempuan Bojonegoro#Bojonegoro Produktif#Kabar Bojonegoro#Ahmad Supriyanto#Golkar Bojonegoro#DPRD Bojonegoro#Politik Perempuan#Kesetaraan Gender#Pemberdayaan Perempuan#Kebijakan Inklusif#Kesejahteraan Rakyat#Pendidikan Untuk Semua#Ekonomi Keluarga

Bagikan artikel ini:

Berita Terkait